Kamis, 26 Mei 2011

Surat untuk sahabat....

Sahabat, melalui tinta ini aku tuangkan isi hatiku…
Sahabat, dari tulisan ini aku curahkan jiwaku…
Sahabat, dari surat ini aku sampaikan kasih sayangku…
Dia, dia yang kini ada dikehidupanku.
Dia, dia yang kini menuangkan tinta warna-warni direlung hatiku.
Dia, dia yang kini menghadirkan rasa nyaman untuk diriku.
Dia, dia yang kini membuat seisi jiwaku takut kehilangannya.
Dia, dia yang kini mengajak pikiranku menuju kebahagiaan kebersamaan.
Dia, dia yang kini membuat keberadaanku benar-benar ada didunia ini.
Dia, dia yang kini membuat air mataku mengalir lebih berarti.
Dia, dia yang kini mengajakku mencurahkan isi hatiku.
Dia, dia yang kini membawaku pergi menembus ruang dan waktu.
Sahabat, andai saja kau mau menceritakan siapa dirimu kepadaku,
Sahabat, andai saja kau mau tuangkan isi hatimu kepundakku,
Sahabat, mungkin saja aku bisa lebih mengerti tentangmu, tentang isi hatimu, tentang kebutuhanmu.

Sahabat, tahu kah kau kenapa aku menjadikanmu sesosok kebutuhan jiwaku?

Sahabat, lihatlah dunia ini, kekacauan begitu pesat meraja lela, kemurnian kasih sayang dan cinta kini menjadi kapas yang mudah tertiup angin hingga hilang dari sukma hati orang-orang. Sikut-menyikut, tendang-menendang, menjelekkan satu sama lain, dan saling bermain topeng dengan begitu jahatnya. Semua itu hanya demi kekuasaan, kesenangan semata, dan apalah… yang penting membuat dirinya senang dan puas.


Sahabat, resapilah kehidupan saat ini, begitu sulitnya kita menemukan ketulusan cinta, keikhlasan kasih sayang, dan kemurnian persaudaraan. Yang membuat kita saling tak percaya.
Sahabat, aku mengenalmu bukan untuk melukaimu.
Aku, memilihmu menjadi malikat dunia bukan untuk menyakiti hatimu.
Aku, memintamu untuk berbagi bersamaku bukan untuk membohongimu.
Sahabat, aku tahu, dan aku sadar bila hidupmu memang bukan untukku, bila nafasmu memang bukan untukku, bila jasadmu memang bukan untukku. Tetapi, senyumanmu yang indah, kasih sayangmu yang tulus, dan samudra cintamu yang dalam, itu semua yang kau hadirkan untukku, itu semua yang selalu menguatkanku, itu semua yang mengisi kerelung jiwaku, itu semua yang mengikatku dalam satu ruang. Ruang yang penuh kebahagiaan, ruang yang penuh suka cita, ruang penuh dengan selimut keikhlasan cinta, ruang cerita indah yang tak abadi, namun akan menjadi yang abadi untukku, dan untuk semua orang.

Sahabat, tahu kah kau alasanku kenapa aku memilihmu menjadi sesosok kebutuhan jiwaku?

Sahabat, kadang kita merasa senang, sedih, lelah, bosan, dan bingung, dikala kita sedang ingin membangun pondasi persaudaraan yang erat dengan seseorang yang ingin kita jadikan sosok kebutuhan jiwa kita. Tetapi sahabat, semua itu hanyalah proses yang indah, yang dimana bibit itu akan tumbuh menjadi pohon yang besar, rindang dan dipenuhi buah-buah. Pohon yang bisa membuat kita berteduh, disaat diri kita lelah dengan kehidupan ini. Sahabat, semua ini akan terasa nikmat, indah, menyenangkan, dan begitu bahagianya, jika kita mau ikhlas untuk terus menikmati proses ini. Saling mengerti, saling berbicara, saling mendengar, dan juga saling berpegang tangan. Bukan untuk saling diam. Saling menjauh, saling mementingkan harga diri masing-masing. Karena sahabat, kitalah yang mau untuk saling mencocokkan, bukan cocok pada sendirinya.



Sahabat, Tuhan menciptakan kita dengan begitu sempurnanya. Mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, hati untuk merasakan, tangan untuk memberi, pikiran untuk berbagi. Namun kenapa kita masih suka menilai seseorang dari sampulnya? Kenapa kita masih menjadi makhluk yang mengurangi semua kesempurnaan yang telah Tuhan berikan untuk kita?
Sahabat, begitu banyak untaian kata-kata manis untuk mengartikan seorang sahabat dalam hidup kita. namun pertanyaannya, sudahkah kita menjadi seorang sahabat yang benar? Sudahkah kita memberikan sandaran pundak kita dengan benar untuk sahabat kita? Dan sudahkah kita belajar untuk menjadi sesosok kebutuhan jiwa untuk sahabat kita? Karena jangan sampai hanya lidah kemunafikan kita semata yang berbicara. Karena terkadang, begitu mudah mulut ini untuk memaniskan sesuatu yang padahal semuanya tak semanis dengan ucapan kita.
Sahabat, terkadang sebuah kabar dari kita adalah suatu harapan yang besar bagi sahabat kita, baik itu dalam bentuk SMS. Tetapi itulah bentuk perhatiaan dari seorang sahabat kepada kita, namun kita pun tak munafik, bila terkadang kita belum terbiasa dengan itu, maka cobalah untuk membuka hati. Karena bisa mendapatkan kabar dari kita itu merupakan hadiah terindah bagi sahabat kita. Meski terkadang kita menganggap itu sepele, namun bagi sahabat, tidak ada yang sepele bila menyangkut dengan kabar dari sahabatnya.
Sahabat, disaat hati ini menemukanmu, saat mata ini menyapamu, saat pikiran ini mengenalmu, saat jiwa ini merasakanmu, saat pundak ini merangkulmu. aku tidak berharap kau akan menyayangiku, aku tidak berharap kau baik padaku, aku juga tidak berharap kau akan selalu menolongku, tetapi aku cuma selalu berharap bisa membuatmu selalu tersenyum dan bahagia disaat bersamaku. Dan bukan maksudku ingin membawamu kedalam permasalahan hidupku, bukan maksudku ingin menyelamkanmu kedalam air kesedihanku, bukan maksudku ingin mengajakmu membuang waktumu secara sia-sia, bukan maksudku ingin membawamu kedalam dunia ilusi semata. Namun jauh dalamnya samudra hatiku, aku ingin kau mengerti, aku ingin kau memahami, aku ingin kau menyadari, bila kita tak selamanya bisa bersama, bila kita tak selamanya bisa tersenyum, bila kita tak selamanya bisa menangis, bila kita tak selamanya bisa beryannyi, bila kita tak selamanya bisa saling bertengkar, bila kita tak selamanya bisa saling merangkul, bila kita tak selamanya bisa saling berbagi cerita, bila kita tak selamanya bisa duduk bersama dengan segelas kopi dan teh dirumah makan yang biasa kita datangkan. Karena hidup ini hanyalah sementara, kita tak pernah tahu apakah hari esok kita masih bisa bernafas? apakah hari esok kita masih bisa berbagi ? apakah hari esok kita masih bisa saling berangkulan? untuk itu sebelum semuanya ini berakhir, masih adakah alasan untuk kita tidak saling menyayangi? untuk kita tidak saling mencintai? untuk kita saling membenci? untuk kita saling munafik?

Sahabat, banyak yang mengatakan Hidup ini adalah perjuangan, hidup ini adalah misteri, hidup ini adalah anugrah terindah, hidup ini adalah teka-teki, hidup ini adalah tantangan, dan hidup ini adalah tempat mencari bekal untuk kita kembali kepada sang Tuhan..
Tetapi ada juga yang mengatakan jika hidup ini adalah kesengsaraan, hidup ini adalah hakim yang tidak adil, hidup ini adalah bencana, hidup ini adalah permainan topeng busuk belaka, hidup ini adalah uang, dan hidup ini adalah tempat untuk meluapkan segala bentuk nafsu duniawi. Tetapi bagi diriku hidup ini adalah tumpukkan cerita indah yang akan kita ajukan kepada Tuhan nanti. Seperti halnya aku menenalmu, begitu banyak cerita yang akan tertumpah diatas kertas kehidupan ini, kertas putih yang akan selalu kau berikan untuk kutulis dengan cinta serta kasih sayangku. Meski ku tahu tak selamanya kertas putuih itu akan selamanya putih, namun bagiku akan selalu menjadi yang terputih dihatiku.

Sahabat, hidup ini adalah pilihan. Seperti halnya aku memilihmu untuk menjadi sesosok kebutuhan jiwaku, bukanlah hal yang mudah bagiku, karena aku pun harus melewati segala kriteria-kriteria yang benar didalam memilih seorang sahabat, meski kita mengetahui begitu banyak teman dimuka bumi ini, tetapi tak semuanya bisa menjadi seorang sahabat, tak semuanya bisa kita jadikan tempat luapan hati, tak semuanya bisa menjadi lilin penerang jalan menuju surga. Dan bila memang diri kita sudah terpilih untuk menjadi sesosok kebutuhan jiwa seseorang, maka bersyukurlah, dan jagalah dia sebaik mungkin, seperti kita menjaga diri kita sendiri.

Sahabat, sudah kah kau mengerti dan memahami akan maknamu untukku?



Sahabat, sejenak mari kita buang semua keegoisan kita, buang semua kemunafikkan kita, dan mari kita putar pikiran ini menuju kemasa yang tak terlupakan, masa yang indah saat kita masih bersama, saat kita saling merangkul, saat kita tertawa, saat kita tersenyum, saat kita menangis, saat kita kecewa, dan saat kita berlari meraih mimpi…
Waktu itu begitu indah, waktu itu begitu bahagianya, waktu itu begitu mengharukan, waktu itu begitu menyakitkan,waktu itu begitu menyedihkan, dan waktu itu begitu merindukan kita sahabat...
Namun kini semuanya menjadi cerita, Cerita yang selalu tertumpah, cerita yang selalu menghiasi, cerita yang selalu menemani, cerita yang selalu membuat kita tersenyum, cerita yang selalu membuat kita menangis, cerita yang selalu membuat kita kecewa, cerita yang selalu membuat kita terdiam, cerita yang selalu membuat kita saling mencintai, cerita yang selalu membuat kita saling menyayangi, dan cerita yang selalu membuat kita saling berangkulan, cerita yang selalu aku harapkan di dalam setiap do’aku untuk dapat berjumpa kembali disurga nanti.

Sahabat, masih kah kau bertanya akan artimu untukku?


dari Allah Melalui Aku dan Untuk Mu Sahabat
Bila aku menulis, bukan atas diriku, bukan untuk siapa aku.
Tetapi aku menulis,
Atas pemberian-Nya kepadaku,
Dari jiwaku, mempersembahkan Karya Agung-Nya, bersama ribuan nikmat-Nya di atas semua kebesara-Nya, yang sudah tersulam dengan indah didiriku. Terpatri disetiap sis-sisi otakku. Karena aku bukan siapa-siapa, aku tak punya apa-apa. Aku hanya tumpukan sampah dari diriku. Aku yang akan menyatu dengan tanah dan akan kembali ke Sang pencipta.
Dan karyaku adalah butiran-butiran debu dari Maha Besar keagungan-Nya. Melalui tempat berawalnya dosa, seraya mengalir kejemari-jemari yang tak tahu apa-apa namun akan berbicara jujur dipengadilan-Nya. Dan dengan mudahnya menyulap kata yang menetes dari pikiranku menjadi bait-bait mutiara agung disetiap huruf-huruf yang tertumpah didalam tulisanku. Dan itu hanya untuk aku persembahkan untukmu.Dan untuk mu sahabat-sahabatku tercinta, yang telah menjadi bagian dari geometri hidupku, yang akan terpahat dalam disamudra hatiku, dan tersimpan abadi dihati dan di kehidupanku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar